MALANG — Kedekatan waktu dua gempa di selatan Jawa Timur tidak berarti keduanya berasal dari proses yang sama. BMKG menjelaskan gempa di tenggara Malang dan barat daya Lumajang pada 4–5 Oktober 2026 dipicu sumber berbeda, sehingga tidak dinyatakan saling berkaitan.
Penjelasan itu disampaikan Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Malang Ricko Kardoso. Menurut Ricko, gempa Malang berhubungan dengan aktivitas sesar aktif di bawah laut, sedangkan gempa Lumajang berasal dari proses subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia.
Perbedaan kedalaman membantu menjelaskan pemisahan tersebut. Gempa pertama, pada Minggu pukul 19.36 WIB, memiliki magnitudo 4,6 dan kedalaman 35 kilometer. Pusatnya berada sekitar 139 kilometer tenggara Kabupaten Malang.
Gempa berikutnya terjadi Senin pukul 09.16 WIB dengan magnitudo 4,4. Kedalamannya 76 kilometer dan pusatnya sekitar 133 kilometer barat daya Kabupaten Lumajang. Dengan demikian, selisih waktu yang relatif singkat disertai perbedaan posisi, kedalaman, dan mekanisme sumber.
Kedua kejadian dilaporkan menimbulkan getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah tanpa dampak signifikan yang disebutkan dalam laporan. BMKG tetap memantau perkembangan aktivitas di kawasan tersebut. Penjelasan mengenai sumber gempa tidak menghapus kebutuhan mengikuti informasi terbaru.
Sebagai konteks, laporan BMKG untuk September menunjukkan aktivitas kegempaan Jawa Timur dan sekitarnya memang memiliki lebih dari satu sumber. Pertemuan lempeng dan aktivitas patahan lokal sama-sama berpengaruh terhadap catatan kejadian di wilayah ini.
Catatan aktivitas seismik yang diberitakan pada 4 Oktober menunjukkan 557 gempa sepanjang September. Sebanyak 429 kejadian berada pada kedalaman kurang dari 60 kilometer. Selain itu, terdapat 127 gempa pada kedalaman 60–300 kilometer dan satu kejadian lebih dalam dari 300 kilometer.
Angka tersebut memperlihatkan dominasi gempa dangkal dalam catatan bulanan. Namun, statistik satu bulan tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa dua kejadian tertentu memiliki hubungan. Dalam kasus Malang dan Lumajang, BMKG menggunakan karakter masing-masing gempa untuk menjelaskan perbedaannya.
Ricko mengingatkan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan serta memperoleh informasi melalui kanal resmi. Pesan ini relevan ketika kabar guncangan dari beberapa daerah beredar berdekatan dan mudah digabungkan menjadi satu cerita tanpa penjelasan mengenai sumbernya.
Bagi warga, informasi yang perlu diperhatikan mencakup waktu, lokasi pusat, kedalaman, magnitudo, serta keterangan resmi dampaknya. Untuk dua kejadian awal Oktober ini, kesimpulan BMKG sudah jelas: sama-sama terjadi di kawasan selatan Jawa Timur, tetapi berasal dari sumber yang berbeda.