Menu
Berita Jawa Timur

Jawa Timur Jatim Kehilangan 9.540 Hektare akibat Karhutla: Kemarau Kini Menjadi Ujian Pencegahan

Admin P
08 Oktober 2026 13:59
38 dibaca
Jawa Timur Jatim Kehilangan 9.540 Hektare akibat Karhutla: Kemarau Kini Menjadi Ujian Pencegahan

Kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur telah menghanguskan sekitar 9.540 hektare sejak Juni hingga awal Oktober 2026. Angka itu memperlihatkan bahwa karhutla bukan lagi kejadian terpisah yang bisa ditangani hanya setelah api terlihat

Kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur telah menghanguskan sekitar 9.540 hektare sejak Juni hingga awal Oktober 2026. Angka itu memperlihatkan bahwa karhutla bukan lagi kejadian terpisah yang bisa ditangani hanya setelah api terlihat. Di tengah musim kemarau, kebakaran muncul di banyak wilayah dan memaksa petugas bekerja dalam kondisi lapangan yang tidak mudah. Data BPBD Jatim tersebut menjadi peringatan bahwa ancaman api masih nyata, bahkan menjelang berakhirnya periode kemarau.

Luas lahan yang terbakar memberi gambaran mengenai beratnya dampak, tetapi belum menjawab seluruh pertanyaan yang penting bagi warga: titik mana yang paling rentan, seberapa cepat laporan ditindaklanjuti, dan bagaimana mencegah api berulang di lokasi yang sama? Pemerintah daerah dan petugas kebencanaan perlu memastikan informasi tentang wilayah rawan mudah diakses. Warga juga perlu tahu ke mana harus melapor ketika melihat kepulan asap, terutama di dekat hutan, perkebunan, atau lahan kering.

Pencegahan membutuhkan keterlibatan masyarakat karena banyak aktivitas pemicu kebakaran terjadi dekat permukiman atau kawasan yang digunakan warga. Membakar sampah dan membuka lahan dengan api mungkin terasa sebagai cara praktis, tetapi risikonya membesar ketika vegetasi mengering dan angin membuat api cepat merambat. Imbauan saja tidak cukup jika tidak disertai pemantauan lapangan, respons yang cepat, dan penjelasan yang konsisten mengenai konsekuensi pembakaran.

Angka 9.540 hektare seharusnya menjadi dasar evaluasi, bukan sekadar statistik akhir musim. Publik perlu mengetahui daerah mana yang berulang kali terbakar, bagaimana penanganannya, dan langkah apa yang akan mencegah kejadian serupa. Ketika kebakaran terus meluas, biaya yang ditanggung bukan hanya berupa lahan yang hangus, tetapi juga kerja pemadaman, gangguan aktivitas warga, dan risiko bagi kawasan sekitar. Pertanyaan besarnya sekarang: apakah respons akan berhenti pada pemadaman, atau berlanjut menjadi pencegahan yang terukur?

Bagikan: